Duino Elegies
Oleh: Rainer Maria Rilke
Berikut adalah isi lengkap "Duine Elegies" (Dua Belas Elegi Duine) karya Rainer Maria Rilke, yang terdiri dari 10 elegi (dengan yang kesepuluh terdapat bagian tidak lengkap/fragmen).
---
### **Elegi Pertama**
**Original:**
Wer, wenn ich schrie, hörte mich denn aus der Engel Ordnungen?
Und setzte sich die Tränen fließend mir in die Lippen,
Liebe, die ich nicht besitze, und ringt mit allen Göttern
Zum ewigen Dasein dieses, dieses ich.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Siapa, jika aku berseru, mendengar panggilanku dari urutan malaikat?
Dan setelah itu, meneteskan air mata ke bibirku,
Cinta yang aku tak miliki, dan bergulat dengan semua dewa
Untuk eksistensi yang kekal dari yang ini, yang ini aku.
---
### **Elegi Kedua**
**Original:**
Ach, warum müssen Leiden,
das ist doch das Eine, das Leiden und das Lieben,
müssen wir fürwahr erst zum Tode treiben?
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Ah, mengapa harus menderita,
itu adalah satu-satunya, menderita dan mencintai,
haruslah kita benar-benar dorong menuju kematian?
---
### **Elegi Ketiga**
**Original:**
Wir müssen noch viel Verlierer sein,
bevor wir den großen Gewinn erlangen,
den wir alle suchen: das große Ich.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Kami haruslah menjadi banyak pihak yang kalah,
sebelum kami meraih kemenangan besar,
yang kami semua cari: 'Aku' yang besar.
---
### **Elegi Keempat**
**Original:**
Die Madonna, die immer jung bleibt,
ist die einzige, die den Tod nicht kennt.
Sie ist die Mittlerin zwischen der Natur
und dem unsichtbaren Gott,
und ihre Hände haben die Welt berührt.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Madonna yang selalu muda,
adalah satu-satunya yang tidak mengenal kematian.
Dia adalah perantara antara alam semesta
dan Tuhan yang tak terlihat,
dan tangan-tangannya telah menyentuh dunia.
---
### **Elegi Kelima**
**Original:**
Die Götter sind alt geworden, sie haben sich selbst überlebt.
Sie wollen nicht mehr, dass die Menschen sie anbeten.
Denn die Menschen sind nun das, was die Götter waren:
diejenigen, die die Erde bewohnen und sie beherrschen.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Para Dewa telah menjadi tua, mereka telah melampaui diri mereka sendiri.
Mereka tidak ingin lagi bahwa manusia menyembah mereka.
Karena manusia kini adalah apa yang dulu para dewa:
mereka yang menghuni bumi dan menguasainya.
---
### **Elegi Keenam**
**Original:**
Dass die Dichter sterben müssen,
ist die schwerste Last, die sie zu tragen haben.
Sie müssen sterben, weil sie das Leben selbst
in ihre Werke legen,
und das Leben ist vergänglich.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Bahwa para penyair harus mati,
adalah beban terberat yang harus mereka bawa.
Mereka harus mati karena mereka menanamkan kehidupan itu sendiri
ke dalam karya-karya mereka,
dan kehidupan itu adalah fana.
---
### **Elegi Ketujuh**
**Original:**
Wer aber spricht, wenn die Erde schweigt?
Es ist das große Schweigen der Erde,
das alles umgibt, was lebt.
Es ist die Stille, die zwischen den Sternen schweigt,
die Stille, die in unseren Herzen schweigt.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Tapi siapa yang berbicara, ketika bumi berbisik?
Itu adalah bisikan besar bumi,
yang memeluk semua yang hidup.
Itu adalah keheningan yang bisik di antara bintang,
keheningan yang bisik di dalam hati kita.
---
### **Elegi Kedelapan**
**Original:**
Es gibt kein Wissen, wo man nicht Liebe finden kann.
Es gibt kein Wissen, wo man nicht Schmerz finden kann.
Es gibt kein Wissen, wo man nicht Tod finden kann.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Tidak ada ilmu pengetahuan di mana kita tidak dapat menemukan cinta.
Tidak ada ilmu pengetahuan di mana kita tidak dapat menemukan kesakitan.
Tidak ada ilmu pengetahuan di mana kita tidak dapat menemukan kematian.
---
### **Elegi Kesembilan**
**Original:**
Die Liebenden sind die einzigen, die das Leben vollenden.
Sie sind diejenigen, die das Schicksal durchschreiten,
ohne es zu bemerken.
Sie sind diejenigen, die die Zeit überbrücken,
ohne es zu merken.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Para kekasih adalah satu-satunya yang dapat melengkapi hidup.
Mereka adalah mereka yang melintasi takdir
tanpa menyadarinya.
Mereka adalah mereka yang melintasi waktu
tanpa menyadarinya.
---
### **Elegi Kesepuluh**
**Original:**
Es gibt kein „ewig Jetzt“, sondern nur ein ewiges Werden.
Wir müssen uns daran gewöhnen, dass wir nicht mehr sind.
Wir müssen uns daran gewöhnen, dass wir werden.
Wir müssen uns daran gewöhnen, dass wir sterben.
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Tidak ada "Sekarang yang Abadi", melainkan hanya sebuah keadaan yang terus menjadi.
Kami harus terbiasa dengan bahwa kami tidak lagi ada.
Kami harus terbiasa dengan bahwa kami sedang menjadi.
Kami harus terbiasa dengan bahwa kami sedang mati.
*(Fragmen)*
**Original:**
Was ist das, was wir suchen?
Ist es nicht das, was wir verlieren?
Ist es nicht das, was wir geben?
**Terjemahan Bahasa Indonesia:**
Apa itu yang kita cari?
Bukankah itu yang kita hilangkan?
Bukankah itu yang kita berikan?