Pelabuhan Jiwa
Isi Karya
Di luar, kota meraung, janji dan teriak,
Roda kehidupan berputar, tak kenal rehat.
Ribuan langkah tergesa, mengejar waktu yang cepat,
Namun ada satu ruang, tempat hati terlelap.
Tirai tebal membungkus sisa hiruk pikuk jalanan,
Bunyi klakson teredam, tinggal desah kenangan.
Selangkah kuayun, menembus dinding hening yang dalam,
Dari panggung gemerlap, menuju peneduh malam.
Di sini, dinding adalah penjaga, dan lantai adalah saksi,
Bukan lampu neon menyala, hanya bias tanpa emosi.
Pojok sunyi ini, bukan berarti ketiadaan suara,
Namun suara yang tersisa hanyalah bisikan udara.
Lalu pikiran berlayar, lepas dari kemudi yang tergesa,
Menghitung denyut nadi, menemukan makna kata jeda.
Wajah yang letih terbuka, tanpa topeng dan sandiwara,
Sebuah pertemuan murni, antara aku dan jiwa.
Biarlah keramaian itu terus menjadi pusaran tak terhenti,
Aku memilih singgah di pelabuhan yang selalu menanti.
Pojok sunyi ini, adalah napas yang dicari, penawar lara,
Refleksi suci di tengah gemuruh drama dunia.
Diskusi Pembaca